Search on this blog
Tuesday, March 17, 2009
Thursday, March 12, 2009
Read More atau Baca Selengkapnya
Untuk versi template classic aku udah pernah bikin tutorialnya, akhir-akhir ini banyak banget yang nanya, akhirnya aku nyari info, malah ketemu di helpnya blogger, How can I create expandable post summaries?. Tapi jangan langsung di cobain, aku udah nyoba beberapa kali tapi gagal kalo ngikutin yang dari helpnya blogger, terutama pada bagian style/css nya.
Coba klik disini
Membuat “Read More…” atau “Baca Selengkapnya..” di Blogger Baru
Cara Buat Read More di Blogger Baru
Baca Selengkapnya...
Coba klik disini
Membuat “Read More…” atau “Baca Selengkapnya..” di Blogger Baru
Cara Buat Read More di Blogger Baru
Baca Selengkapnya...
Tuesday, March 10, 2009
Al-Ghazzali
Orang menghitung dengan tasbih banyaknya mereka menghafal Asma Allah dengan rasa puas-diri, tp mereka tidak memakai tasbih untuk menghitung kata2 kosong yang mereka ucapkan
Al-Ghazzali
Pada suatu hari Nabi Ibrahim mengundang makan malam seseorang, tp sdetelah mengetahui ternyata orang itu kafir, Nabi Ibrahim membatalkan undangan itu dan mengusirnya. Tiba-tiba suara Ilahi menegurnya, “kamu tidak memberinya makan bahkan untuk sehari saja, hanya karena ia beragama lain, padahal selama tujuhpuluh tahun Aku memberinya makan meski ia menjalankan Bid’ah. Sekiranya kau memberinya makan semalam, kau takkan jatuh miskin karena itu.
Al-Ghazzali
Pada suatu hari Nabi Ibrahim mengundang makan malam seseorang, tp sdetelah mengetahui ternyata orang itu kafir, Nabi Ibrahim membatalkan undangan itu dan mengusirnya. Tiba-tiba suara Ilahi menegurnya, “kamu tidak memberinya makan bahkan untuk sehari saja, hanya karena ia beragama lain, padahal selama tujuhpuluh tahun Aku memberinya makan meski ia menjalankan Bid’ah. Sekiranya kau memberinya makan semalam, kau takkan jatuh miskin karena itu.
Ibn ‘Arabi
Dunia ini adalah jln menuju kebahagian abadi dank arena itu baik-pantas dihargai dan dipuji.
Yang buruk adalah apa yang kau lakukan dengan dunia saat kamu dibutakan pada kebenaran dan dikuasai sepenuhnya oleh hasrat, hawa nafsu dan ambisi pada dunia.
Kesenangan dunia ini tidaklah membahayakan dengan sendiri. Ia baru berbahaya ketika semua itu membuat lupa, tidak patuh dan melalaikan Tuhanmu
Yang buruk adalah apa yang kau lakukan dengan dunia saat kamu dibutakan pada kebenaran dan dikuasai sepenuhnya oleh hasrat, hawa nafsu dan ambisi pada dunia.
Kesenangan dunia ini tidaklah membahayakan dengan sendiri. Ia baru berbahaya ketika semua itu membuat lupa, tidak patuh dan melalaikan Tuhanmu
Syeikh Muzaaffir
Orang dr negeri realita berkata, “ suatu dosa yang dilakukan dengan cinta lebih bernilai ketimbang suatu ibadah tanpa cinta.”
Sebab ibadah tanpa cinta tidaklah memperoleh ganjaran selain membuang-buang tenaga. Suatu dosa yang dilakukan dengan cinta tentu saja tetap diancam dengan siksaan, tp setidaknya perbuatan itu bias dinikmati.
Sebab ibadah tanpa cinta tidaklah memperoleh ganjaran selain membuang-buang tenaga. Suatu dosa yang dilakukan dengan cinta tentu saja tetap diancam dengan siksaan, tp setidaknya perbuatan itu bias dinikmati.
Ansari
Pertolongan Tuhan datang tak terduga, tp hanya untuk hati yang waspada.
Jangan gantungkan harapanmu pada manusia, sebab kau akan terluka.
Gantungkanlah harapanmu pada Tuhan maka kau akan diselamatkan
Jangan gantungkan harapanmu pada manusia, sebab kau akan terluka.
Gantungkanlah harapanmu pada Tuhan maka kau akan diselamatkan
Al-Ghazzali
Apakah uang mengelisahkan hati orang berilmu?
a menjawab, “orang yang hatinya berubah karena uang bukanlah orang berilmu.”
a menjawab, “orang yang hatinya berubah karena uang bukanlah orang berilmu.”
Shabistari
Aku dank au hanyalah kisi2 pada ceruk sebuah lampu, lewat mana Cahaya Tunggal memancar.
Aku dank au adalah tabir antara langit dan bumi; angkatlah tabir ini, maka kau akan lihat tak ada lagi mazhab dan sekte-sekte
Aku dank au adalah tabir antara langit dan bumi; angkatlah tabir ini, maka kau akan lihat tak ada lagi mazhab dan sekte-sekte
Rumi
Kemrin kemabukan menghantarku ke pintu cinta. Tp hri ini tak bias kutemukan pintu ataupun rumahny.
Tuhun lalu aku pnya dua syap. Ketakutan dan harapan. Hari ini, aku tak tahu tentang sayap, tak tau bagmn terbang, tak tau takuku yang hilang.
Tuhun lalu aku pnya dua syap. Ketakutan dan harapan. Hari ini, aku tak tahu tentang sayap, tak tau bagmn terbang, tak tau takuku yang hilang.
Rumi
Kemrin kemabukan menghantarku ke pintu cinta. Tp hri ini tak bias kutemukan pintu ataupun rumahny.
Tuhun lalu aku pnya dua syap. Ketakutan dan harapan. Hari ini, aku tak tahu tentang sayap, tak tau bagmn terbang, tak tau takuku yang hilang.
Tuhun lalu aku pnya dua syap. Ketakutan dan harapan. Hari ini, aku tak tahu tentang sayap, tak tau bagmn terbang, tak tau takuku yang hilang.
Tampa Judul
Ku berdiri di atas kakiku
Menginjak bumi yang tlah sepuh
Menahan tubuh yang ta’tau malu
Jerit Sembilu sang bumi mengadu
Merintih, tertusuk sang kaki-kaki pemburu
Taukah…
Pada tanah dan perutmu
Mengitung jari dan waktu
Tuk berharap kembali utuh
Utuh kakiku dan kakimu
Menginjak bumi yang tlah sepuh
Menahan tubuh yang ta’tau malu
Jerit Sembilu sang bumi mengadu
Merintih, tertusuk sang kaki-kaki pemburu
Taukah…
Pada tanah dan perutmu
Mengitung jari dan waktu
Tuk berharap kembali utuh
Utuh kakiku dan kakimu
Murka
Bila orang pinggiran menjerit
suaranya tak terdengar
tegorokan terhimpit dinding besi
perut terikat kawat berduri
berkarat dan beracun
mata melotot tak berkedip
darah tersumbat dan membeku
hati mejerit
mengadu pada NYA
terdengar oleh perut bumi
terjawab oleh paku2 bumi
tangis pilu sang awan
mengundang halilintar
tuk melantunkan suaranya
yang sudah lama terpendam
dibalik kemurkaan
sang alam
suaranya tak terdengar
tegorokan terhimpit dinding besi
perut terikat kawat berduri
berkarat dan beracun
mata melotot tak berkedip
darah tersumbat dan membeku
hati mejerit
mengadu pada NYA
terdengar oleh perut bumi
terjawab oleh paku2 bumi
tangis pilu sang awan
mengundang halilintar
tuk melantunkan suaranya
yang sudah lama terpendam
dibalik kemurkaan
sang alam
Lata
Semua pada ramia menyilatkan lidahnya
Yang satu mengatkan hai
Kedua mengatakan hai
Samapai tak terhitung lidah hai
Hia hai hai hai
Dan hai hai
Hai
Hari berganti hai, bosan berganti hai
Bosan dan bosan
Hai, bosan
Tertindas kata
Terjerat makna
Terhimpit zaman
Terbawa abad
Tergores kisah
Terjadilah hai
Begitulah hai
Yang satu mengatkan hai
Kedua mengatakan hai
Samapai tak terhitung lidah hai
Hia hai hai hai
Dan hai hai
Hai
Hari berganti hai, bosan berganti hai
Bosan dan bosan
Hai, bosan
Tertindas kata
Terjerat makna
Terhimpit zaman
Terbawa abad
Tergores kisah
Terjadilah hai
Begitulah hai
Agar Hati Tak Teraling
Ilahi anta maksudi waridhoka madlubi 'atini mahabbataka wa ma'rifataka
Amalan Itu beragam lantaran beragamnya keadaan yang menimpa hati
Sebuah amalan yang berasal dari hati yang murni dan tulus, tidaklah sama dengan sebuah amalan yang didorong oleh keinginan-keinginan, ketakutan-ketakutan, dan ambisi-ambisi pribadi. Hasil perbuatan berbeda-beda sesuai dengan niat dan kondisi kalbumu. perbuatan adalah gerakan lahir dari apa yang ada dalam kalbu dan tergantung pada keadaannya. Maka seluruh kondisi dan pengalaman yang ada mencerminkan keadaan kalbu yang sebenarnya.
catatan : pribadi saya bukan seperti di atas ini tapi di atas ini haya untuk memperingatkan saya.
Amalan Itu beragam lantaran beragamnya keadaan yang menimpa hati
Sebuah amalan yang berasal dari hati yang murni dan tulus, tidaklah sama dengan sebuah amalan yang didorong oleh keinginan-keinginan, ketakutan-ketakutan, dan ambisi-ambisi pribadi. Hasil perbuatan berbeda-beda sesuai dengan niat dan kondisi kalbumu. perbuatan adalah gerakan lahir dari apa yang ada dalam kalbu dan tergantung pada keadaannya. Maka seluruh kondisi dan pengalaman yang ada mencerminkan keadaan kalbu yang sebenarnya.
catatan : pribadi saya bukan seperti di atas ini tapi di atas ini haya untuk memperingatkan saya.
Berserah pada Takdir dan Anugerah
Ilahi anta maksudi waridhoka madlubi 'atini mahabbataka wa ma'rifataka
Salah satu tanda bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan tatkala gagal
jika kita berasumsi bahwa sumber kekuatan di baik usaha-usaha kita adalah diri kita sendiri, maka kita akan kecewa kala hasilnya tak sesuai dengan harapan-harapan kita. tetapi, kalau kita benar-benar berserah diri kepada ALLAH, maka kita akan melihat satunya asal dan penyebab di balik usaha, peranan pribadi kita dalam melaksanakannya dan juga hasilnya. kegagalan kemudian hanya akan kita anggap sebagai peringatan untuk memperkuat kesadaran kita akan kehendak, rahmat, dan kemurahan ALLAH. Di mata orang yang tercerahkan, tehadap kesatuan total dalam usaha dan hasil
catatan : pribadi saya bukan seperti di atas ini tapi di atas ini haya untuk memperingatkan saya.
Salah satu tanda bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan tatkala gagal
jika kita berasumsi bahwa sumber kekuatan di baik usaha-usaha kita adalah diri kita sendiri, maka kita akan kecewa kala hasilnya tak sesuai dengan harapan-harapan kita. tetapi, kalau kita benar-benar berserah diri kepada ALLAH, maka kita akan melihat satunya asal dan penyebab di balik usaha, peranan pribadi kita dalam melaksanakannya dan juga hasilnya. kegagalan kemudian hanya akan kita anggap sebagai peringatan untuk memperkuat kesadaran kita akan kehendak, rahmat, dan kemurahan ALLAH. Di mata orang yang tercerahkan, tehadap kesatuan total dalam usaha dan hasil
catatan : pribadi saya bukan seperti di atas ini tapi di atas ini haya untuk memperingatkan saya.
Dibalik sholat
"Sholat itu tempat munajat dan sumber pencerahan, di mana medan-medan rahasiaNya meluas di dalamnya, dan pencahayaan jiwa memancar di dalamnya."
Sholat itu adalah munajat para hamba kepada Allah swt. Dalam sholat itulah sifat-sifat IndahNya tampak bagi para hamba, dan bagaimana Allah swt menjaga dan memelihara alam semesta. Sang hamba meraih limpahan ma’rifat dan ilmu-ilmu Ilahiyah.
Sholat itu pula menjadi tempat percintaan hamba pada Allah swt dengan menghadapkan dirinya kepadaNya secara total, lahir dan batin, hingga meraih limpahan pencerahan cahaya yang luar biasa. Menurut kadar penerimaan hamba kepada Tuhannya, maka sejauh itu pula Allah swt menerima kehadiran hambaNya.
Dalam sholat pula, rahasia-rahasia meluas, berupa pengetahuan dan ma’rifat yang dahsyat, kemudian cahayanya memancar luas dari buah munajat sang hamba.
Wacana hikmah inilah yang meneguhkan, bahwa yang dituntut oleh Allah swt, adalah menegakkan sholat, bukan wujudnya sholat.
Selanjutnya beliau berkata:
“Allah Maha Tahu akan lemahnya kekuatan anda, maka Allah swt menimimalisir jumlahnya sholat. Dan Allah swt, Maha Tahu betapa dirimu sangat butuh pada karuniaNya, maka Allah swt, memperbanyak anugerahNya (dibalik sholat).”
Jumlah sholat yang semula 50 kali, diminimalisir oleh Allah swt, hanya dengan lima kali, namun, karena seorang hamba berhasrat pada pahala dan anugerahNya, maka lima kali sholat itu sama dengan lima puluh kali.
Artikel berasal dari http://sufinews.com/
Sholat itu adalah munajat para hamba kepada Allah swt. Dalam sholat itulah sifat-sifat IndahNya tampak bagi para hamba, dan bagaimana Allah swt menjaga dan memelihara alam semesta. Sang hamba meraih limpahan ma’rifat dan ilmu-ilmu Ilahiyah.
Sholat itu pula menjadi tempat percintaan hamba pada Allah swt dengan menghadapkan dirinya kepadaNya secara total, lahir dan batin, hingga meraih limpahan pencerahan cahaya yang luar biasa. Menurut kadar penerimaan hamba kepada Tuhannya, maka sejauh itu pula Allah swt menerima kehadiran hambaNya.
Dalam sholat pula, rahasia-rahasia meluas, berupa pengetahuan dan ma’rifat yang dahsyat, kemudian cahayanya memancar luas dari buah munajat sang hamba.
Wacana hikmah inilah yang meneguhkan, bahwa yang dituntut oleh Allah swt, adalah menegakkan sholat, bukan wujudnya sholat.
Selanjutnya beliau berkata:
“Allah Maha Tahu akan lemahnya kekuatan anda, maka Allah swt menimimalisir jumlahnya sholat. Dan Allah swt, Maha Tahu betapa dirimu sangat butuh pada karuniaNya, maka Allah swt, memperbanyak anugerahNya (dibalik sholat).”
Jumlah sholat yang semula 50 kali, diminimalisir oleh Allah swt, hanya dengan lima kali, namun, karena seorang hamba berhasrat pada pahala dan anugerahNya, maka lima kali sholat itu sama dengan lima puluh kali.
Artikel berasal dari http://sufinews.com/
Pendidikan Ilahi
Riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah, dari Rasulullah saw, bersabda:
“Tuhanku mendidikku, dan Dia mendidik adabku dengan baik.”
Hadits mulia ini melazimkan perwujudan hakikat dengan mengikuti jejak Adab Nabi saw. Barangsiapa yang tergelincir dari adab tersebut akan terjerumus dalam hawa nafsunya. Siapa yang berpisah dengan adab tersebut ia tersesat dan menyimpang. Maka dengan adab itulah kaum muqorrobun menanjakkan hasratnya, rahasia-rahasia kaum arifin memancar. Dan tidak ada arah benar dalam jalan ma’rifat Billah kecuali mengikuti jejak adab Nabi Muhammad saw. Sedangkan semua tangganya adalah: Dzikir yang terus menerus.
Anak-anaku, ingatlah kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala adalah puncak derajat dzikir. Allah mengagungkan derajat itu, dan meninggikan perkara, kemuliaan dan karunianya. Kemudian dzikir terbagi dalam bentuk lisan, rukun dan hakikatnya.
Bagi sang pendzikir hendaknya :
• Tidak terfokus pada dzikirnya,
• Memiliki himmah (cita) dan kehendak yang mulia,
• Mempunyai kecerdasan lembut dalam isyarat,
• Niat dan kehendaknya benar (Lillahi Ta’ala)
• Dalam berdzikir tidak bertujuan lain selain Allah Ta’ala.
•Dan tidak menempuh jalan lain selain menuju kepadaNya. Karena wushul secara total itu di bawah RidloNya, bukan yang lainNya. Sedangkan terhalang total itu semata karena sibuk pada yang lainNya
Bagi orang yang berdzikir hendaknya mengingat Allah secara total dengan penuh pengagungan dan penghormatan. Bukan dengan asal-asalan apalagi dengan kealpaan, karena dzikir yang tidak mengagungkan dan menghormatiNya justru menimbulkan hijab pada Allah, sebagai bentuk siksa atas sikap meninggalkan pengagungan dan penghormatan itu. Sebab menjaga kehormatan dan pengagungan padaNya itu lebih utama ketimbang dzikirnya.
Tak seorang hamba pun yang berdzikir secara hakiki, melainkan akan lupa pada selain Allah Ta’ala. Allah sebagai ganti segalanya.
Terkadang sang arif ingin berdzikir, lantas memuncaklah gelombang pengagungan dan kharismaNya, hingga lisannya kelu, lalu jiwanya membubung karena keagungan wahdaniyahNya, kemudian tampak padanya pancaran rindu dan cinta dari hijab kasih qalbu dan kelembutan, hingga hasratnya sampai pada permadani Uluhiyah dan hamparan medan rububiyah, atas izin Allah Ta’ala.
Pada saat itulah terbuka tirai dari segala hal selain Dia, atas keajaiban rahasiaNya dan kelembutan ciptaanNya, keparipurnaan KuasaNya dan pancaran cahaya-cahaya SuciNya.
Pada saat itulah sang hamba tahu bahwa Allah swt melakukan apa pun yang dikehendnakiNya, pada orang yang dikehendaki, bagi orang yang dikehendaki, kapan kehendakNya dan bagaimana kehendakNya, melalui Tangan anugerahNya, pemberian dan kehendakNya.
Tak ada yang menolak atas karuniaNya dan tidak ada yang menghalangangi atas hukumNya, maka sang hamba akan sibuk denganNya, menjadi fana’ dibawah Baqa’Nya.
Inilah makna dari salah satu kabar, bahwa Allah swt, berfirman dalam salah satu kitabNya, “Siapa yang mengingatKu dan tidak lupa padaKu, maka Kugerakkan hatinya untuk mencintaiKu, hingga ketika ia bicara ia bicara karenaKu, dan ketika diam, ia diam karenaKu.”
Allah swt, berfirman:
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan dzikir kepada Allah…”
Yahya bin Mu’adz ra, berkata, “Dzikir itu lebih besar ketimbang syurga, karena dzikir itu adalah bagian Allah sedangkan syurga itu bagiannya hamba. Dalam dzikir ada ridlo Allah, sedang dalam syurga ada ridlo hamba.” Dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, beliau berkata, “Sesungguhynya Allah Ta’ala tampak pada orang-orang yang berdzikir ketika berdzikir dan membaca Al-Qur’an, hanya saja mereka tidak melihatNya. Karena Allah Maha Mulia (tidak bias) dilihat (matakepala), dan Maha Jelas dari ketersembunyian. Karena itu, menyendirilah kalian semua bersama Allah swt, dan bermesralah dengan dzikrullah. Tak ada yang turun pada seorang hamba satu pun, kecuali ada dalilnya dalam Kitabullah, berupa petunjuk dan penjelasan.” Mesra dengan Allah swt. Abu Abdullah an-Nasaj ra mengatakan, “Sesungguhnya Allah swt memiliki syurga di dunia, siapa pun yang masuk akan aman. Sungguh indah dan sebaik-baik tempat kembali.” Ditanya, “Syurga apakah itu?” “Mesra bersama Allah swt.” Jawabnya. Dalam sebagian kitabnya Allah Ta’ala berfirman, “Wali-wali dan KekasihKu, bernikmat-nikmatlah kalian dengan mengingatKu, dan bersukacitalah denganKu. Akulah senikma-nikmat Tuhan bagimu di dunia dan di akhirat.”
Abu Bakr al-Wasithy ditanya, “Apakah anda ingin makanan?”
“Ya,” jawabnya.
“Makanan apa?”
“Satu suapan dari dzikrullah, dengan kejernihan yaqin, dan di atas sajian ma’rifat, dengan tegukan air husnudzon dari wadah ridlo Allah swt.”
Diriwayatkan Allah swt, berfirman kepada Nabi Ibrahim as, “Tahukan kamu mengapa Aku jadikan dirimu sebagai Al-Khalil (sahabat dekat)?” “Tidak,” jawab Ibrahim as. “Karena hatimu tak pernah lupa padaKu, dan dalam situasi apa pun dirimu tak pernah melupakanKu…” “Jika bukan karena Engkau memerintahkan kami berdzikir kepadaMu, siapakah yang berani mengingatMu? Karena keagungan dan kebesaranMu…..?” Sungguh mengherankan bagaimana orang yang berdzikir, hatinya masih ada dalam tubuhnya ketika mengingat keagunganMu! Diriwayatkan, bahwa Allah swt, berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa, sesungguhnya aku tidak menerima sholat dan dzikir kecuali pada orang yang tunduk pada keagunganKu, hatinya terus menerus takut padaKu dan usianya dihabiskan untuk mengingatKu.
http://sufinews.com/
“Tuhanku mendidikku, dan Dia mendidik adabku dengan baik.”
Hadits mulia ini melazimkan perwujudan hakikat dengan mengikuti jejak Adab Nabi saw. Barangsiapa yang tergelincir dari adab tersebut akan terjerumus dalam hawa nafsunya. Siapa yang berpisah dengan adab tersebut ia tersesat dan menyimpang. Maka dengan adab itulah kaum muqorrobun menanjakkan hasratnya, rahasia-rahasia kaum arifin memancar. Dan tidak ada arah benar dalam jalan ma’rifat Billah kecuali mengikuti jejak adab Nabi Muhammad saw. Sedangkan semua tangganya adalah: Dzikir yang terus menerus.
Anak-anaku, ingatlah kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala adalah puncak derajat dzikir. Allah mengagungkan derajat itu, dan meninggikan perkara, kemuliaan dan karunianya. Kemudian dzikir terbagi dalam bentuk lisan, rukun dan hakikatnya.
Bagi sang pendzikir hendaknya :
• Tidak terfokus pada dzikirnya,
• Memiliki himmah (cita) dan kehendak yang mulia,
• Mempunyai kecerdasan lembut dalam isyarat,
• Niat dan kehendaknya benar (Lillahi Ta’ala)
• Dalam berdzikir tidak bertujuan lain selain Allah Ta’ala.
•Dan tidak menempuh jalan lain selain menuju kepadaNya. Karena wushul secara total itu di bawah RidloNya, bukan yang lainNya. Sedangkan terhalang total itu semata karena sibuk pada yang lainNya
Bagi orang yang berdzikir hendaknya mengingat Allah secara total dengan penuh pengagungan dan penghormatan. Bukan dengan asal-asalan apalagi dengan kealpaan, karena dzikir yang tidak mengagungkan dan menghormatiNya justru menimbulkan hijab pada Allah, sebagai bentuk siksa atas sikap meninggalkan pengagungan dan penghormatan itu. Sebab menjaga kehormatan dan pengagungan padaNya itu lebih utama ketimbang dzikirnya.
Tak seorang hamba pun yang berdzikir secara hakiki, melainkan akan lupa pada selain Allah Ta’ala. Allah sebagai ganti segalanya.
Terkadang sang arif ingin berdzikir, lantas memuncaklah gelombang pengagungan dan kharismaNya, hingga lisannya kelu, lalu jiwanya membubung karena keagungan wahdaniyahNya, kemudian tampak padanya pancaran rindu dan cinta dari hijab kasih qalbu dan kelembutan, hingga hasratnya sampai pada permadani Uluhiyah dan hamparan medan rububiyah, atas izin Allah Ta’ala.
Pada saat itulah terbuka tirai dari segala hal selain Dia, atas keajaiban rahasiaNya dan kelembutan ciptaanNya, keparipurnaan KuasaNya dan pancaran cahaya-cahaya SuciNya.
Pada saat itulah sang hamba tahu bahwa Allah swt melakukan apa pun yang dikehendnakiNya, pada orang yang dikehendaki, bagi orang yang dikehendaki, kapan kehendakNya dan bagaimana kehendakNya, melalui Tangan anugerahNya, pemberian dan kehendakNya.
Tak ada yang menolak atas karuniaNya dan tidak ada yang menghalangangi atas hukumNya, maka sang hamba akan sibuk denganNya, menjadi fana’ dibawah Baqa’Nya.
Inilah makna dari salah satu kabar, bahwa Allah swt, berfirman dalam salah satu kitabNya, “Siapa yang mengingatKu dan tidak lupa padaKu, maka Kugerakkan hatinya untuk mencintaiKu, hingga ketika ia bicara ia bicara karenaKu, dan ketika diam, ia diam karenaKu.”
Allah swt, berfirman:
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan dzikir kepada Allah…”
Yahya bin Mu’adz ra, berkata, “Dzikir itu lebih besar ketimbang syurga, karena dzikir itu adalah bagian Allah sedangkan syurga itu bagiannya hamba. Dalam dzikir ada ridlo Allah, sedang dalam syurga ada ridlo hamba.” Dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, beliau berkata, “Sesungguhynya Allah Ta’ala tampak pada orang-orang yang berdzikir ketika berdzikir dan membaca Al-Qur’an, hanya saja mereka tidak melihatNya. Karena Allah Maha Mulia (tidak bias) dilihat (matakepala), dan Maha Jelas dari ketersembunyian. Karena itu, menyendirilah kalian semua bersama Allah swt, dan bermesralah dengan dzikrullah. Tak ada yang turun pada seorang hamba satu pun, kecuali ada dalilnya dalam Kitabullah, berupa petunjuk dan penjelasan.” Mesra dengan Allah swt. Abu Abdullah an-Nasaj ra mengatakan, “Sesungguhnya Allah swt memiliki syurga di dunia, siapa pun yang masuk akan aman. Sungguh indah dan sebaik-baik tempat kembali.” Ditanya, “Syurga apakah itu?” “Mesra bersama Allah swt.” Jawabnya. Dalam sebagian kitabnya Allah Ta’ala berfirman, “Wali-wali dan KekasihKu, bernikmat-nikmatlah kalian dengan mengingatKu, dan bersukacitalah denganKu. Akulah senikma-nikmat Tuhan bagimu di dunia dan di akhirat.”
Abu Bakr al-Wasithy ditanya, “Apakah anda ingin makanan?”
“Ya,” jawabnya.
“Makanan apa?”
“Satu suapan dari dzikrullah, dengan kejernihan yaqin, dan di atas sajian ma’rifat, dengan tegukan air husnudzon dari wadah ridlo Allah swt.”
Diriwayatkan Allah swt, berfirman kepada Nabi Ibrahim as, “Tahukan kamu mengapa Aku jadikan dirimu sebagai Al-Khalil (sahabat dekat)?” “Tidak,” jawab Ibrahim as. “Karena hatimu tak pernah lupa padaKu, dan dalam situasi apa pun dirimu tak pernah melupakanKu…” “Jika bukan karena Engkau memerintahkan kami berdzikir kepadaMu, siapakah yang berani mengingatMu? Karena keagungan dan kebesaranMu…..?” Sungguh mengherankan bagaimana orang yang berdzikir, hatinya masih ada dalam tubuhnya ketika mengingat keagunganMu! Diriwayatkan, bahwa Allah swt, berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa, sesungguhnya aku tidak menerima sholat dan dzikir kecuali pada orang yang tunduk pada keagunganKu, hatinya terus menerus takut padaKu dan usianya dihabiskan untuk mengingatKu.
http://sufinews.com/
Saturday, March 7, 2009
Dzun Nun
Ilahi anta maksudi waridhoka madlubi 'atini mahabbataka wa ma'rifataka
Ikan Pemberi Permata
Pada suatu perjalanan, Dzun Nun ikut naik ke kapal dan kemudian kapal tersebut berlayar di atas samudra, tiba-tiba seorang saudagar mengku kehilangan permata yang dimilikinya.
satu persatu semua penumpang digeledah. akan tetapi Dzun nun yang dijadikan tersangka dan disuruh untuk mengembaliakn. tentu saja Dzun Nun mengelak dari tuduhan itu karena Dzun Nun tidak mengambil. kemarahan penumbang memuncak hinggal Dzun Nun dipukuli dan menghajarnya. Namun Dzun Nun tetap diam dan membisu tidak mengadakan perlawanan sedikitpun. Lama-kelamaan Dzun Nun tidak tahan, lalu berseru,"Wahai Sang Pencipta, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui!" Seketika itu berribu-ribu ekor ikan mendongakkan kapalanya ke atas permukaan air laut dan semua ikan itu membawa sebuah permata di mulutnya. Kemudian Dzun Nun mengambilnya sebauh dan memberikannya kepada saudagar yang kehilangan permatanya. Melihat kejadian tersebut, semua orang itu berlutut dan minta maaf. Sejak itulah beliau dipanggil Dzun Nun (manusia Iakan) yang mempunyai nama asli Abul Faiz Tsuban bin Ibrahim Al-Mishri.
Al-fateha...
Ikan Pemberi Permata
Pada suatu perjalanan, Dzun Nun ikut naik ke kapal dan kemudian kapal tersebut berlayar di atas samudra, tiba-tiba seorang saudagar mengku kehilangan permata yang dimilikinya.
satu persatu semua penumpang digeledah. akan tetapi Dzun nun yang dijadikan tersangka dan disuruh untuk mengembaliakn. tentu saja Dzun Nun mengelak dari tuduhan itu karena Dzun Nun tidak mengambil. kemarahan penumbang memuncak hinggal Dzun Nun dipukuli dan menghajarnya. Namun Dzun Nun tetap diam dan membisu tidak mengadakan perlawanan sedikitpun. Lama-kelamaan Dzun Nun tidak tahan, lalu berseru,"Wahai Sang Pencipta, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui!" Seketika itu berribu-ribu ekor ikan mendongakkan kapalanya ke atas permukaan air laut dan semua ikan itu membawa sebuah permata di mulutnya. Kemudian Dzun Nun mengambilnya sebauh dan memberikannya kepada saudagar yang kehilangan permatanya. Melihat kejadian tersebut, semua orang itu berlutut dan minta maaf. Sejak itulah beliau dipanggil Dzun Nun (manusia Iakan) yang mempunyai nama asli Abul Faiz Tsuban bin Ibrahim Al-Mishri.
Al-fateha...
Thursday, March 5, 2009
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya) dari pasangan Rd Nura Pradja (Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan Ibu Emah
Klik disini -> Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad
Klik disini -> Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad
Perjalanan Al-Kharraz
Mimpi Malaikat dan Baginda Nabi Muhammad SAW.
suatu malam, Al-Kharraz (Abu Sa'id Al-Kharraz) bermimpi didatangi malaikat, dua malaikat turun dari langit kemudian bertanya kepada Al-Kharraz tentang kesetian.
"Apa kesetiaan itu?"
Al-Kharraz menjawab,"Memenuhi perjanjian dengan Allah".
"Jawabanmu benar."lalu kedua malaikat terbang ke langit.
kemudian Al-Kharraz bermimpi bertemu dengan baginda Nabi Muhammad SAW, Beliau bertanya kepada Al-Kharraz.
"Apa engkau mencintai aku?"
"Al-Kharraz menjawab dengan jujur, Maafkanlah aku !, aku tidak sempat mencintaimu, sebab aku mencintai ALLAH"
kemudan Nabi saw. berkata, "Barangsiapa mencintai ALLAH, sesungguhnya ia mencintaiku pula."
Suatu hari ketika di Damaskus, Al-Kharraz bermimpi baginda Nabi Muhammad saw. sambil ditobang Abu Bakar dan Umar, Nabi menghampiirinya. ketika Al-Kharraz sedang menyenandungkan Syair sambil menepuk-nepuk dada. Nabi berkata, "keburukanya lebih besar dari kebaikannya(Maksuddnya jangan suka bersyair)".(apa lagi lagu-lagu sekarang keburukanya sangat besar)
mimpi tersebut merupakan sentimentil secara horizontal, sebab bagaimana mungkin ia tidak mencintai Rosulullah, sedangkan ia sehari-hari meneladani sikap dan tindakan beliau.
suatu malam, Al-Kharraz (Abu Sa'id Al-Kharraz) bermimpi didatangi malaikat, dua malaikat turun dari langit kemudian bertanya kepada Al-Kharraz tentang kesetian.
"Apa kesetiaan itu?"
Al-Kharraz menjawab,"Memenuhi perjanjian dengan Allah".
"Jawabanmu benar."lalu kedua malaikat terbang ke langit.
kemudian Al-Kharraz bermimpi bertemu dengan baginda Nabi Muhammad SAW, Beliau bertanya kepada Al-Kharraz.
"Apa engkau mencintai aku?"
"Al-Kharraz menjawab dengan jujur, Maafkanlah aku !, aku tidak sempat mencintaimu, sebab aku mencintai ALLAH"
kemudan Nabi saw. berkata, "Barangsiapa mencintai ALLAH, sesungguhnya ia mencintaiku pula."
Suatu hari ketika di Damaskus, Al-Kharraz bermimpi baginda Nabi Muhammad saw. sambil ditobang Abu Bakar dan Umar, Nabi menghampiirinya. ketika Al-Kharraz sedang menyenandungkan Syair sambil menepuk-nepuk dada. Nabi berkata, "keburukanya lebih besar dari kebaikannya(Maksuddnya jangan suka bersyair)".(apa lagi lagu-lagu sekarang keburukanya sangat besar)
mimpi tersebut merupakan sentimentil secara horizontal, sebab bagaimana mungkin ia tidak mencintai Rosulullah, sedangkan ia sehari-hari meneladani sikap dan tindakan beliau.
Tanbih
TANBIH
Tanbih ini dari Syaekhuna Almarhum Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah.
Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria maupun wanita, tua maupun muda :
“Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Allah Subhanahu Wata’ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.
Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur dhohir maupun bathin.
Pun kami tempat orang bertanya tentang Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, menghaturkan dengan tulus ikhlas wasiat kepada segenap murid-murid : berhati-hatilah dalam segala hal jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan agama maupun negara.
Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikianlah sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap Hadlirat Illahi Robbi yang membuktikan perintah dalam agama maupun negara.
Insyafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan setan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah agama maupun negara, agar dapat meneliti diri, kalau kalau tertarik oleh bisikan iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita.
Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian :
1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik dlohir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun dan saling menghargai.
2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama maupun negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “Adzabun Alim”, yang berarti duka-nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah hati susah).
3. Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan.
4. Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.
Demikanlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran, meskipun terhadap orang-orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam a. s. mengingat ayat 70 Surat Irso yang artinya :
“Sangat kami mulyakan keturunan Adam dan kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami mengutamakan mereka lebih utama dai makhluk lainnya.”
Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat Surat Al-Maidah yang artinya :
“Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap agama maupun negara, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah agama maupun negara".
Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat Surat Al-Kafirun ayat 6 :”Agamamu untuk kamu, agamaku untuk aku”,
Maksudnya jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur.
Cobalah renungakan pepatah leluhur kita:
“ Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri.
Dalam surat An-Nahli ayat 112 diterangkan bahwa :
“Tuhan yang Maha Esa telah memberikan contoh, yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya/ penghuninya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri”.
Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dlohir-bathin, dunia maupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya “ Budi Utama-Jasmani Sempurna “ (Cageur-Bageur).
Tiada lain amalan kita, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan, menjauhi segala kejahatan dhohir bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan.
Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
Amin.
Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan
Baca Riwayat Hidup Abah Anom
KH.A Shohibulwafa Tadjul Arifin
Tanbih ini dari Syaekhuna Almarhum Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah.
Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria maupun wanita, tua maupun muda :
“Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Allah Subhanahu Wata’ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.
Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur dhohir maupun bathin.
Pun kami tempat orang bertanya tentang Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, menghaturkan dengan tulus ikhlas wasiat kepada segenap murid-murid : berhati-hatilah dalam segala hal jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan agama maupun negara.
Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikianlah sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap Hadlirat Illahi Robbi yang membuktikan perintah dalam agama maupun negara.
Insyafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan setan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah agama maupun negara, agar dapat meneliti diri, kalau kalau tertarik oleh bisikan iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita.
Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian :
1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik dlohir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun dan saling menghargai.
2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama maupun negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “Adzabun Alim”, yang berarti duka-nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah hati susah).
3. Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan.
4. Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.
Demikanlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran, meskipun terhadap orang-orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam a. s. mengingat ayat 70 Surat Irso yang artinya :
“Sangat kami mulyakan keturunan Adam dan kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami mengutamakan mereka lebih utama dai makhluk lainnya.”
Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat Surat Al-Maidah yang artinya :
“Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap agama maupun negara, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah agama maupun negara".
Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat Surat Al-Kafirun ayat 6 :”Agamamu untuk kamu, agamaku untuk aku”,
Maksudnya jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur.
Cobalah renungakan pepatah leluhur kita:
“ Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri.
Dalam surat An-Nahli ayat 112 diterangkan bahwa :
“Tuhan yang Maha Esa telah memberikan contoh, yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya/ penghuninya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri”.
Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dlohir-bathin, dunia maupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya “ Budi Utama-Jasmani Sempurna “ (Cageur-Bageur).
Tiada lain amalan kita, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan, menjauhi segala kejahatan dhohir bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan.
Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
Amin.
Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan
Baca Riwayat Hidup Abah Anom
KH.A Shohibulwafa Tadjul Arifin
Hari Akhir jagat raya

Surat ke 99 Al Zalzalah
Surat ini terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah diturunkan sesudah surat An Nisaa'. Nama Al Zalzalah diambil dari kata: Zilzaal yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang berarti goncangan
Pokok-pokok isinya:
Kegoncangan bumi yang amat hebat pada hari kiamat dan kebingungan manusia ketika itu; manusia pada hari kiamat itu dikumpulkan untuk dihisab segala amal perbuatan mereka.
Al Zalzalah
1. Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
3. dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",
4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
5. karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
6. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka[1596],
[1596]. Maksudnya ada di antara mereka yang putih mukanya dan ada pula yang hitam dan sebagainya.
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun surat Al Insaan ayat 8 kaum Muslimin menganggap bahwa orang yang bershadaqah sedikit tidak akan memperoleh pahala dan menganggap pula bahwa orang yang berbuat dosa kecil seperti berbohong, mengumpat, mencuri penglihatan dan sebangsanya tidak tercela serta menganggap bahwa ancaman api nereka dari Allah disediakan bagi orang yang berbuat dosa besar. Maka turunlah ayat ini (S.99:7,8) sebagai bantahan terhadap anggapan mereka itu,
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa'id bin Jubair.)
8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Penutup
Surat Az Zalzalah menerangkan tanda-tanda permulaan hari kiamat dan pada hari itu manusia akan melihat sendiri hasil perbuatan mereka, baik ataupun buruk, meskipun sebesar dzarrah.
HUBUNGAN SURAT AZ ZALZALAH DENGAN SURAT AL 'AADIYAAT
Surat Az Zalzalah menerangkan balasan atas perbuatan yang baik dan yang buruk, sedang pada surat Al 'Aadiyat Allah s.w.t. mencela orang-orang yang telah mencintai kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat dan tidak mempersiapkan diri mereka untuk kehidupan akhirat itu dengan amal kebajikan
Subscribe to:
Posts (Atom)